Perempuan Dalam Pemikiran Feminisme, dan Gender

oleh : Amrullah

Berbicara tentang Perempuan, tidak lepas dari perbincangan laki-laki sebagai pasangan yang telah di anugerahkan oleh Allah SWT, yang kemudian gerakan perempuan disebut dengan feminisme, siti Muslikhati menyebutkan “ feminisme pada umumnya merupakan perbincangan tentang bagaimana pola relasi laki-laki dan perempuan, serta bagaimana hak, status, dan kedudukan perempuan disektor domestik dan publik”[1]

Di Indonesia gerakan feminisme lebih dikenal dengan istilah emansipasi yang di kaitkan dengan tokoh perempuan R.A. Kartini. Adapun difinisi Feminisme adalah:

”Feminisme harus didefinisikan secara jelas dan lugas supaya tidak terjadi kesalah pahaman. Untuk keperluan itulah mereka mengajukan definisi yang menurutnya memiliki pengertian yang lebih luas, yaitu suatu kesadaran akan penindasan dan (diskriminasi) terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja, dan dalam keluarga dan tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut. Oleh karena itu, selain sebagai gerakan, feminisme juga menjadi metode analisis (cara pandang) dalam menilai keberadaan wanita dalam sebuah masyarakat berikut pola relasinya”.[2]

Dalam masa reformasi perempuan dengan berbagai gerakannya terus melakukan perubahan disegala bidang “dalam relasi gender, istilah ketimpangan gender sudah menjadi bahasa baku dimana sering dihubungkan dengan berbagai kondisi perempuan yang terpuruk, tertinggal, tersubordinasi,”[3] Analisis gender merupakan cara pandang bagaimana antara relasi laki – laki dan perempuan harus memiliki timbangan yang setara, karena gender lahir bukan karena karena faktor biologis antara pria dan wanita, kecuali karena hanya merupakan kontruksi masyarakat. Salah satu agenda pokok dari pada feminisme adalah mewujudkan kesetaraan gender dimana laki-laki dan perempuan dapat berperan dalam wilayah domestik dan publik. Lebih lanjut Siti Muslikhati mengatakan ”Mainstream agenda feminisme adalah bagaimana mewujutkan kesetaraan gender secara kwantitatif, yaitu pria dan wanita harus sama-sama (fifty-fifty) berperan baik di dalam maupun di luar rumah.” [4]

Cara pandang kaum feminisme, bahwa adanya ketimpangan (ketidak adilan jender)[5] merupakan sesuatu yang telah dikondisikan dan menjadi penglebelan oleh masyarakat atas dominasi laki-laki atas perempuan, Siti Muslikhati mengatakan :

“Dalam perspektif feminis, spesisifikasi peran-peran manusia (laki-laki dan perempuan) dalam masyarakat di pandang timpang (tidak egaliter), artinya konstruksi social selama ini dianggap sangat menyudutkan kaum hawa. Menurut kaum feminisme, hegomoni laki-laki atas perempuan ini memperoleh legitimasi dari nilai-nilai social, agama, hukum Negara dan sebagainya serta tersosialisasikan secara turun temurun dari generasi ke generasi.”[6]

Beberapa hal yang dianggap oleh Kaum Feminsme tidak menguntungkan perempuan yaitu :

1. Perempuan berada dalam kondisi tersubordinasi oleh laki-laki terutama dalam pengambilan keputusan.

2. Terjadi marginalisasi dalam arti aktifitas kerja wanita tidak produktif dan mempunyai nilai rendah.

3. Terjadi penindasan pada perempuan karena beban pekerjaan yang lebih panjang dan berat.

4. Sering terjadi kekerasan dan penyiksaan terhadap peerempuan secara fisik dan mental.[7]

Berdasarkan hal tersebut telah menggerakkan perjuangannya untuk melepaskan diri dari belenggu ketidak adilan untuk mencari kebebasan. Yang kemudian mucullah berbagai faham yang menimbulkan berbagai perbedaan cara pandang dan bagaimana cara mereka memandang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan .

Atas perbedaan perspektif tersebut telah melahirkan empat (4) besar feminisme yaitu;

1. feminisme liberal, mereka berpendapat bahwa kebebasan dan keseimbangan berakar pada rasionalitas, pada dasarnya tidak ada beda antara laki-laki dan perempuan, perjuangan kaum ini menuntut kesempatan dan hak yang sama bagi setiap individu termasuk perempuan atas dasar kesamaan keberadaannya sebagai mahluk rasional. yang menjadi dasar perjuangan terhadap perbedaan antara tradisional dan modern. misalnya perempuan terlalu memegang teguh pada pola tradisonalnya sehingga perempuan kalah bersaing dengan laki-laki.

2. feminisme marxis, kaum ini merujuk kepada teori kompliknya Karl Marx, bahwa kepemilikan pribadi dapat menghacurkan keadilan dan kesamaan kesempatn yang pernah dimilki masyarakat sekaligus dapat memicu konflik yang terus menerus dalam masyarakat. Dalam sebuah keluarga suami adalah cerminan dari kaum borjuis karena laki-laki yang menguasai seluruh basis material atau nafkah sehingga lebih berkuasa sebagai kepala keluarga, sedangkan isteri atau perempuan dan anak-anak adalah merupakan kaum yang tertindas.

3. feminisme radikal, golongan ini memandang bahwa institusi keluarga dan system patriarki merupakan lembaga formalisasi untuk menindas perempuan sehingga golongan tersebut sangat anti terhadap lembaga perkawinan dan monolaknya. Dalam lembaga perkawinan adalah berlaku system patriarki sehingga perempuan tertindas.

4. feminisme sosialis, mereka memandang kaum penindasan perempuan ada dikelas manapun, ada ketegangan antara kebutuhan kesadaran feminisme disatu pihak dan kebutuhan untuk menjaga intergritas materialisme marxisme. Yang menjadi sentral dari gerakan feminisme sosialis adalah dengan cara membangkitkan rasa emosi pada perempuan agar mereka bangkit untuk mengubah keadaannya atas sistem patriarki. [8]

Meskipun pergerakan perempuan timbul begitu banyak aliran sebagai pergerakan perjuangan akan hak hak wanita antara relasi laki-laki dan perempuan dengan menggunakan berbagai analisis, namun pada umumnya mempunyai kesamaan pandangan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dari keterpurukan disebabkan adanya berbagai ketimpangan.

Kekerasan terhadap perempuan acapkali dsebut kekerasan berbasis gender sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap perempuan Tahun 1993 dan Rekomendasi No. 19 Komite Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan Tahun 1992 menyatakan bahwa kekerasan berbasis gender adalah suatu bentuk diskriminasi yang merupakan hambatan serius bagi perempuan untuk menikmati hak dan kebebasannya atas dasar persamaan hak dengan laki-laki.

Kekerasan berbasis gender terjadi jika tindak kekerasan di arahkan kepada perempuan atau sengaja ditujukan kepada seorang perempuan karena memang ia perempuan, atau ketika tindakan tersebut mempengaruhi perempuan secara tidak seimbang, yang secara serius menyebabkan terhambatnya kemampuan kaum perempuan untuk menikmati hak serta kebebasannya yang merupakan hak asasi manusia.

F. Pemahaman tentang Diskriminasi berbasis Gender.

Undang-Undang No. 7 Tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap perempuan menyebutkan diskrminasi terhadap perempuan adalah :

”setiap pembedaan, pengucilan, atau pembatasan yang dbuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum wanita, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan”

Diskrimnasi berdasarkan Undang-Undang No. 7 Tahun 1984, tidak hanya terbatas pada pembedaan perlakuan berdasarkan jenis kelamin, tetapi termasuk diskriminasi sebagai akibat dari asumsi sosial budaya negatif yang melekat kepada perempuan yang biasa disebut sebagai ideologi jender, kontruksi ideologis tentang peran dan kapasitas perempuan berakibat kepada akses perempuan menjadi tidak setara pada level individu, dan organisasi.

Diskriminasi terjadi tidak terbatas pada wilayah kehidupan publik yaitu yang berhubungan secara langsung dengan negara, aparat, dan masyarakatnya serta di wilayah politik, ekonomi, sosial, kultural, dan lain-lain. Diskriminasi dapat pula terjadi dalam wilayah privat yaitu yang terjadi dalam hubungan persoalan individu dan keluarganya.

Rekomendasi No. 19 sidang ke 11 komite, tahun 1992 Tentang kekerasan terhadap wanita. Komite menyarankan kepada negara-negara peserta bahwa dalam melakukan peninjauan mengenai aturan perundang-undangan dan kebijaksanaan, dan dalam penyampaian laporan pelaksanaan, perlu diperhatikan pendapat komite mengenai kekerasan berdasarkan perbedaan jenis kelamin, sebagai berikut;

”Pasal 1 konvensi nenerangkan definisi mengenai diskriminasi. Definisi tentang diskriminasi meliputi kekerasan berdasarkan jenis kelamin, yaitu kekerasan yang ditujukan kepada wanita, karena ia adalah seorang wanita atau mempunyai pengaruh secara tidak sepadan pada wanita. Kekerasan itu meliputi tindakan yang mengakibatkan kerusakan atau penderitaan fisik, mental atau seksual, ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan, kekerasan berdasarkan jenis kelamin melanggar ketentuan tertentu dari konvensi, walaupun kata kekerasan tersebut tidak disebut dalam ketentuan itu.

Kekerasan berdasarkan jenis kelamin, yang mengurangi atau meniadakan penikmatan hak asasi manusia dan kebebasan dasar oleh wanita berdasarkan hukum international atau konvensi hak asasi manusia adalah diskriminasi sesuai dengan arti pasal 1 konvensi hak –hak dan kebebasan meliputi :a. Hak atas kehidupan b. Hak untuk tidak mengalami penganiayaan atau kekejaman, perlakuan atau penyiksaan secara tidak manusiawi atau merendahkan martabat, c. Hak untuk mendapat perlindungan yang sama berdasarkan norma-norma kemanusiaan pada waktu terjadi komflik d. Hak atas kemerdekaan dan keamanan pribadi e. Hak atas persamaan dalam keluarga, g. Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan fisik dan mental yang sebak-baiknya. h. Hak atas pekerjaan yang layak dan kondisi kerja yang baik.

Konvensi diberlakukan atas kekerasan yang dilakukan oleh pejabat publik. Tindak kekerasan seperti itu dapat melanggar kewajiban negara itu terhadap hukum international hak asasi manusia atau konvensi lainnya, serta melanggar konvensi wanita.

Ditekankan bahwa diskriminasi menurut konvensi tidak terbatas pada tindakan oleh atau untuk pemerintah (perhatikan pasal 2 (e) 2 (f) dan 5 Pasal 2 (e) Konvensi, mewajibkan negara peserta untuk melakukan segala upaya yang dapat untuk menghapus diskriminasi terhadap wanita oleh orang, organisasi atau perusahaan berdasarkan hukum international dan konvensi khusus hak asasi manusia, negara dapat juga dinyatakan bertanggung jawab atas tindakan privat apabila negara itu tidak melakukan tindakan dengan baik untuk mencegah adanya pelanggaran hak atau menyidik dan menghukum, dan menyediakan kompensasi atas tindak kekerasan itu.[9]



[1] Siti Muslikhati,” Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Timbangan Islam, Gema Insani, Cet. l, Desember 2004. hal. 17

[2] I b i d., hal. 17

[3] I b i d., hal. 18

[4] I b i d., hal. 12

[5] Untuk lebih memahami tentang keadilan jender bacca, Lies Marcoes.-Natsir , Op. Cit., h. 37 – 59

[6] I b i d., hal. 30

[7] I b i d., hal. 30

[8] Siti Muslikhati, Op. Cit., hal. 31

[9] Tapi Omas Ihroni, “Pengahapusan Diskriminasi Terhadap Perempuan”, dalam Achie Sudiarti Luhulima, “Konvensi Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita,” PT. Alumni, , Cet. 2, 2006, hal. 54

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

/* Style Definitions */

table.MsoNormalTable

{mso-style-name:”Table Normal”;

mso-tstyle-rowband-size:0;

mso-tstyle-colband-size:0;

mso-style-noshow:yes;

mso-style-parent:””;

mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;

mso-para-margin:0cm;

mso-para-margin-bottom:.0001pt;

mso-pagination:widow-orphan;

font-size:10.0pt;

font-family:”Times New Roman”;

mso-ansi-language:#0400;

mso-fareast-language:#0400;

mso-bidi-language:#0400;}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s