Hukuman fisik, masihkan perlu?

By Republika Newsroom
Rabu, 24 Desember 2008 pukul 12:25:00

MUSIRON/DOK REPUBLIKADISIPLIN: Kata disiplin berasal dari bahasa latin yang artinya memberikan pengertian dalam hidup. Sebaiknya penerapannya tidak menggunakan kekerasan.

Hukuman Fisik, Masihkah Perlu?

JAKARTA– Melihat anak berbuat salah, seringkali membuat orangtua dan guru di sekolah gemas untuk memberikan hukuman si anak. Tak jarang hukuman fisik menjadi pilihan dalam bertindak.

Di Mesir, seorang guru bernama Haitham Nabil Abdul Hamid diajukan ke pengadilan di kota Iskandariah setelah dituduh memukuli muridnya yang berumur 11 tahun sampai mati.

Situs BBC dalam laporannya mengatakan, siswa berusia 11 tahun bernama Islam Amr Badr meninggal ketika sedang mengikuti pelajaran.

Hakim di pengadilan pidana Iskandariah mendengar kesaksian dari teman – teman Islam Amr Badr, yang menggambarkan bagaimana dia oleh gurunya dalam pelajaran matematika. Mereka mengatakan, dia dihukum karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR).

Akibat pukulan gurunya, dua rusuk Islam Amr Badr patah. Perutnya juga mengalami cedera yang membuat tekanan darahnya jatuh dan akhirnya menyebabkan gagal jantung.

Pak Guru yang baru berusia 23 tahun itu mengaku cuma berniat menanamkan disiplin dan tidak bermaksud melukai siapa-siapa.

Jika hal itu terjadi di Mesir, bagaimana dengan hukuman fisik di Indonesia? Kembali kepada sistem pendidikan di Indonesia pada tahun 1960-an atau 1970-an, masih banyak guru yang memberlakukan hukuman seperti memukul tangan murid dengan penggaris kayu.

Atau, orangtua yang berusaha mendidik anak di rumah dengan sabetan sapu lidi, karena anak malas mengerjakan PR. Salah satu persamaan alasan hukuman tersebut, anak bakal jera melakukan kesalahan yang sama.

Di sekolah, tak jarang masih terlihat dilakukannya hukuman badan. Banyak guru atau para pendidik berpendapat, ketakutan murid pada hukuman fisik akan menambah kekuatan atau kewibawaan guru sehingga murid akan lebih mudah dikendalikan.

Kini hukuman badan sering digugat efektivitasnya oleh kalangan orang tua, para pendidik, maupun psikolog. Hukuman badan ada kalanya memang berdampak positif. Namun, terbuka pula peluang untuk melahirkan dampak negatif.

Menurut Pengamat pendidikan anak dari Kinderfield Pre-school/Kindergarten, Yustitia, kini sebagian besar sekolah tidak lagi menggunakan istilah hukuman sebagai balasan atas perbuatan siswa yang dianggap tidak baik. Sebagian pendidik menyebut tindakannya sebagai konsekuensi.

“Setiap sekolah pasti memiliki program kedisiplinan dan konsekuensi belajar. Dari situ maka akan dibuat aturan-aturan yang diterapkan di kelas. Salah satu aturan umum misalnya anak harus duduk rapi ketika guru menjelaskan,” ujar Yusti, sapaan akrab Yustitia.

Jika suatu waktu salah seorang siswa melanggar aturan, dengan bertanya bukan pada saatnya atau membuat ricuh, maka wajar saja jika guru memberikan konsekuensi.

“Setiap guru pasti punya aturan masing-masing di kelas. Yang penting, anak harus diberitahu mengenai aturan itu sejak awal sehingga dia mengerti telah berbuat salah,” terang Yusti.

Hal itu membuat, kebijakan dari masing-masing sekolah berbeda. Toleransi dari tindakan anak-anak pun berbeda dari setiap sekolah. Utamanya, anak harus diinformasikan mengenai peraturan-peraturan yang berlaku disekolahnya.

Penulis Kids Are Worth It, Barbara Coloroso menuturkan anak bisa saja belajar dari kesalahannya dan mengubah prilakunya tanpa hukuman. Justru semakin meningkatkan hukuman, tidak akan mengajarkan anak mengenai sesuatu yang membangun.

“Disisi lain, kata disiplin sesuai dengan artinya dalam bahasa latin yaitu memberikan anak pengertian dalam hidup. Menjalankan disiplin memiliki empat kelebihan dibandingkan sekedar menghukum,” terang Barbara.

Dia menuturkan, disiplin akan menunjukkan anak perbuatan salah yang dilakukannya, membuat anak memahami kesalahannya dan memberikan anak jalan untuk penyelesaian.

“Yang paling penting adalah disiplin akan menjaga harga diri anak. Berbeda dengan hukuman yang akan menjatuhkannya,” terang Barbara.

Selain itu, para orangtua dan guru juga seringkali memberikan nasihat yang terkesan menggurui anak. “Kalimat yang biasa dikatakan orangtua seperti, jika kamu belajar, kamu tidak akan gagal atau jika kamu tidak memukul adikmu maka kamu tidak akan dihukum berada di kamar. Saya pikir anak-anak tidak membutuhkan informasi demikian, yang sudah diketahuinya,” jelasnya.

Dia menambahkan, dengan menghindari hukuman dan kalimat menggurui maka anak-anak akan belajar bagaimana menyelesaikan masalah yang dilakukannya.

Salah satu hal yang dikhawatirkan Yusti ketika anak dihukum fisik ialah pesan hukuman yang tidak sesuai. Misalnya, anak dipukul oleh ibunya karena ia kedapatan mencubit adiknya terlebih dahulu tanpa sebab.

“Jika ibunya melakukan itu yang saya khawatirkan pesan yang anak terima ialah jika ia disakiti maka harus balas menyakiti. Padahal, pesan yang ingin ibu sampaikan sebenarnya ialah jangan menyakiti orang lain karena rasanya pasti tidak enak. Tapi, pemikiran anak kan masih terbatas,” pungkasnya.

Jika orangtua dan guru mampu menyelami pemikiran dan mengukur kemampuan anak, sedianya tidak perlu mendisiplinkan anak dilakukan dengan hukuman fisik yang notabene dekat dengan kekerasan. (ri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s