waspada: Ibadah Qurban dan dimensi Sosial

Ibadah qurban dan dimensi sosialnya Cetak E-mail
Friday, 05 December 2008 07:41 WIB
WASPADA ONLINE

Oleh Watni Marpaung

Setiap ‘Idul Adha’ umat Islam di berbagai penjuru dunia tidak akan pernah sunyi dari aktivitas ibadah ritual tahuan menyembelih hewan qurban. Ibadah ini sebenarnya mengingatkan kita kembali kepada sejarah Nabi Ibrahim as yang diuji untuk membuktikan kecintaannya kepada Allah dengan bentuk menyembelih anak tercinta Isma’il as. Sekalipun perintah tersebut terasa berat namun Ibahim dengan ikhlas tetap melaksanakannya sesuai dengan tuntunan Allah.

Secara bahasa Qurban berasal dari bahasa Arab dari kata qaraba, yaqrabu, qurbanan yang artinya dekat atau mendekat. Sedangkan secara istilah dipahami sebagai ibadah yang dilakukan pada ‘Idul Adha’ berupa penyembelihan hewan qurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Oleh sebab itu, dapat kita pahami bahwa pemotongan hewan qurban yang dilaksanakan setelah shalat ‘Idul Adha’ sampai dengan berakhir pada hari tasyriq merupakan simbol sebuah ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Jadi, bukan sekadar acara yang sifatnya seremonial untuk menunjukkan bahwa siapa yang berkorban atau untuk menyaksikan secara bersama-sama hewan qurban itu disembelih, tetapi pada hakikatnya penyembelihan yang dilakukan tersebut punya makna yang dalam dan harus diresapi tidak hanya orang yang berqurban tetapi juga semua orang yang menyaksikan penyembelihan hewan qurban tersebut.

Diharapkan peristiwa penyembelihan hewan qurban tersebut dapat meningkatkan keimanan dan rasa perjuangan yang tinggi untuk kepentingan agama Allah. Pada saat hewan qurban disembelih seharusnya kita semua punya sikap yang sama di dalam hati bahwa jika seandainya diminta untuk memperjuangkan agama Allah sekalipun yang menjadi konsekuensinya disembelih seperti hewan kurban maka kita harus pasrah dan tunduk sepenuhnya kepada Allah.

Mungkin sifat-sifat seperti inilah yang dimiliki para sahabat Nabi dalam memperjuangkan agama Allah sehingga mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam sejarah manusia yang mana mereka punya pemahaman mendalam dan konsekwen sekalipun dihina, disiksa, bahkan dibunuh orang-orang kafir. Bagaimana kita melihat Bilal bin Rabah, Khabbab bin ‘Arat dan sahabat-sahabat yang lainnya adalah bentuk-bentuk pengorbanan yang hakiki.

Pada dasarnya pengorbanan seperti demikian yang akan dapat menghantarkan Islam kepada kemajuan bukan hanya terbatas pada bentuk simbol penyembelihan hewan qurban semata, tetapi pengorbanan yang apabila ia diminta demi kepentingan Islam maka harta, tenaga, bahkan nyawa sekalipun dikorbankan. Kendati pun, sikap kemauan umat Islam untuk melakukan pengorbanan dalam bentuk hewan qurban sudah menjadi satu indikasi sikap untuk berkorban terhadap Islam.

Sisi Sosial Ibadah Qurban
Ibadah qurban yang setiap tahun dilakukan umat Islam merupakan salah satu ibadah yang punya kontribusi terhadap sosial kemasyarakatan. Paling tidak pada saat penyembelihan hewan qurban bagi mereka yang menerima daging qurban akan merasakan gembira dan bahagia. Namun, terkadang cukup disayangkan masih banyak orang-orang kaya yang khawatir akan berkurang hartanya dengan melaksanakan ibadah qurban.

Padahal, dia tidak menyadari bahwa harta yang dimilikinya adalah amanah dari Allah yang harus didistribusikan kepada orang banyak supaya mereka juga dapat merasakan nikmat yang kita dapatkan. Sikap seperti itu dikecam Rasul dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami.”

Namun, perlu dicatat bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging qurban, namun yang dimaksud adalah nilai ketakwaan yang terkandung dalam pengorbanan tersebut. Hal inilah yang ditegaskan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al Hajj ayat 37, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya.”

Ayat di atas menegaskan bahwa hewan qurban yang akan kita sembelih merupakan sarana untuk mencapai predikat dan pengakuan sebagai hamba yang taat dan patuh kepada Allah SWT. Jadi, yang dilihat bukan besar atau tidaknya hewan qurban, tetapi sejauh mana tingkat keikhlasan dan ketakwaan yang melatarbelakangi motivasinya untuk berkurban. Walaupun ia berkurban banyak tetapi didorong keinginan supaya disebut dermawan dan pujian tertentu akan menjadi sia-sia.

Sisi sosial yang terlihat dari pelaksanaan ibadah qurban ini adalah terciptanya solidaritas, rasa saling membantu dan berbagi antara satu dengan yang lainnya, sebagai contoh dapat kita lihat dengan adanya pembagian daging qurban kepada para tetangga dan fakir miskin yang salah satu hikmahnya, mungkin bagi sebagian saudara kita yang fakir dan miskin ada yang jarang makan daging dalam sebulan atau setahun maka pada saat ‘Idul Adha’ paling tidak dia dapat merasakan daging yang masih segar dari qurban saudaranya. Sekalipun yang menjadi tujuan qurban bukan hanya daging qurban tersebut tetapi untuk melatih para pequrban bersikap memberi, membantu saudaranya yang lain dengan berbagai bentuk yang dilakukan pada bulan-bulan lain.

Selain itu pula, akan tercipta sebuah kondisi yang kondusif di antara sesama muslim dengan silaturahmi yang semakin erat. Sehingga jurang pemisah antara si kaya dan si miskin akan dapat direkat sedemikian rupa.

Melihat begitu besarnya manfaat ibadah qurban bagi orang yang berqurban dan masyarakat merupakan sebuah motivasi yang harus dipahami dan ditumbuhkembangkan umat Islam sebagai sebuah bentuk kepedulian sosial dan kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar. Inilah yang seharusnya tercipta dan diaplikasikan umat Islam yang mempunyai kemampuan untuk melakukan ibadah qurban.

Ibadah qurban yang setiap tahunnya dilaksanakan umat Islam merupakan sebuah ibadah yang tidak hanya memiliki dimensi ibadah semata, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang memberikan nilai positif terhadap masyarakat luas. Oleh sebab itu, bagi mereka yang punya kemampuan diharapkan tidak saja berqurban dalam bentuk penyembelihan hewan qurban semata tetapi dapat mengaplikasikannya dalam bentuk pengorbanan yang lebih luas dalam bentuk tenaga, pikiran, jabatan dan harta benda yang tentunya lebih memberikan kontribusi yang berharga bagi umat Islam.

Penulis adalah Ketua Divisi Litbang Forum Kajian Islam Dan Masyarakat (FKIM) dan Tim Tafsir alQur’an alKarim Ulama Tiga Serangkai.
EMail: Watni_Mrp@yahoo.comAlamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

(fjr)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s