detik-detik stunami 2004

Hari itu jam 8.00 pagi aku pergi ke bengkel mobil guna chek up mobil, namun bengkel yang ku tuju masih tertutup kemudian aku bergegas pulang, diperempatan jalan tiba-tiba mobilku bergoyang, tiang listrik seperti menari-nari, suara pecahan kaca-kaca terdengar dari rumah-rumah masyarakat. aku seperti tak percaya apa yang terjadi kemudian aku terus berjalan sampai 100 meter. di depan ku tepat di jalan raya ku melihat orang tua anak-anak, meratap sambil berdoa., suasana benar-benar tegang, hari itu seperti mau kiamat.

Seperti biasanya hari sabtu dan Minggu aku pergi ke Banda Aceh untuk melanjutkan sekolahku program pasca sarjana , namun untuk hari minggu tanggal 26 Desember 2004, dosen kami tidak dapat hadir memberi kuliah sehingga aku mengambil keputusan pada hari sabtu sore aku kembali ke Lhokseumawe. pada Jam 12.00 malam aku tiba di lhokseumawe. namun pada pagi harinya aku menrencanakan pergi ke bengkel mobil untuk servis. namun pada waktu ke bengkel aku dapatkan bengkel itu masih ditutup kemudian aku pulang, namun tiba-tiba diperempat jalan mobilku goyang-goyang, ku sempat berpikir jangan-jangan baut roda tidak kuat. tetapi kemudian aku melihat tiang-tiang listrik yang bergoyang hebat seperti menari-nari, aku terus berjalan sampai seratus meter kemudian aku melihat masyarkat berlarian keluar rumah dan toko-toko, ada yang histeris dan ada yang berdoa. masyarakat duduk bersimpuh di sepanjang jalan mulut sambil komat kamit, suara dentingan terus terjadi dari rumah-rumah penduduk. aku menyadari gempa telah terjadi ku parkir mobilku dipinggir jalan sambil menunggu gempa mereda. namun gempa itu terus terjadi semakin cepat, anak-anak menangis dan menjerit ketakutan , sungguh sebuah pemandangan yang tidak menyenangkan yang ku lihat seumur hidupku.

Kemudian aku pun teringat akan anak-anak dan istriku di rumah, saat itu gempa sedikit reda akupun bergegas pergi pelan-pelan melewati jalan yang telah dipenuhi penduduk di atas jalan, aku tidak perduli apa kata mereka terhadap ku, aku terus aku berjalan sampai aku di rumah memang tidak jauh lagi. sesampai di rumah aku melihat anak dan isteriku telah berada di jalan, anak-anakku menangis dan gempa terus terjadi, kadang terasa goncangan yang sangat hebat, kadang agak mereda.

Setelah gempa itu berlangsung setengah jam, penduduk berangsur-rangsur kembali ke rumahnya masing-masing dan mengerjakan aktifitas seperti biasa, begitu pula aku dan isteriku. isteriku kemudian pergi ke kampus untuk ikut kuliah seperti baiasanya akupun keluar bersama anak-anakku untuk membeli keperluan untuk makan siang nanti.

Namun dari kejauhan sana. aku mendengar suara jeritan orang sambil berlari, air…..air….. akupun terperanjat ada apa lagi namun aku tidak begitu percaya. lalu aku pergi dan tidak beberapa jauh aku melihat orang kampungku berlari-lari meninggalkan desanya, aku terus berjalan ke daerah sumber orang berlarian , benar rupanya air telah melimpah ke badan jalan. kemudian segera aku pulang dengan persiapan adanya ku bawa anak-anak dan ibuku dan menjemput isteriku di kampus, yang memang banyak mahasiswa lagi menunggu jemputan karena becak-becak tidak lagi melayani sewaannya.

Aku banar -benar gelisah, kali ini aku rasakan melebihi gempa yang ku rasakan tadinya, di jalan dipenuhi dengan mobil-mobil, sepeda motor, anak-anak dewasa tua dan muda laki dan perempuan berlarian sepanjang jalan untuk menyelamatkan diri, suar historis, tangisan anak-anak kecil, raungan mesin kereta dan mobil menyatu bersatu membuat situasi semakin panik, kemacetan pun terjadi dimana-mana. sungguh sebuah pemandangan yang sangat mencekam.

Akhirnya aku pergi meninggalkan kota Lhokseumawe tempat dimana aku tinggal, dan sekarang aku telah menyelamatkan diri di tempat yang paling tinggi di tempat saudaraku. setelah semua seluruh jaringan telepon putus kecuali jaringan internet dan telepon flexi punya telekom. keesokan harinya mulai beredar info rupanya gempa itu telah membuat air setinggi gungung sebagian wilayah Aceh . aku baru mendapat info setelah sehari kemudian dimana telah terjadi stunami untuk Aceh termasuk diwilayah Lhokseumawe, namun di tempat ku tinggal hanya sebagian kecil terjadi sunami dan ada beberapa orang yang hanyut dibawa arus air laut.

Stunami itu telah menelan korban lebih dari 200 ribu orang lebih kehilangan nyawa. Maha Kuasa Tuhan yang telah menjadikan Hambanya dan mengambilnya pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s